Keniscayaan Hukum Berpikir Paralel dalam Surat Ibrahim Ayat 7 (bagian 1)

0
Berpikir Paralel dalam Alquran 1

Penulis: A. Malik

Al Quran adalah kitab suci bagi seorang muslim dengan ajaran-ajarannya yang lengkap meliputi segala hal dalam kehidupan manusia. Dia adalah pedoman dalam kehidupan seorang muslim. Maka memahami dan menginternalisasikan sepenuhnya untuk setiap kandungan yang ada di dalamnya akan memberikan pengaruh positif bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya. Ini adalah sebuah keniscayaan sebagai akibat dari keyakinan akan kemutlakan kebenaran Al Quran.

Sebagaimana pula kebenaran apa yang terkandung dalam surat Ibrahim ayat 7, yakni berkenaan dengan janji Allah yang akan menambah nikmat bagi seseorang yang mensyukuri atas nikmat yang diterimanya dan mengazab siapapun yang kufur atas nikmat-nikmatnya. Jika kita kaji ayat ini dengan seksama, maka akan kita temukan kebenaran tak tertolak dari ayat tersebut. Apalagi jika kita melihatnya dengan sudut pandang psikologis kognitif, maka sesungguhnya janji Allah pada ayat tersebut telah terus berlaku dalam kehidupan manusia selama ini. Apa yang terjadi pada diri seseorang berkenaan dengan nikmat-nikmat hidupnya adalah apa yang telah Allah firmankan.

Sebuah penjelasan yang cukup mudah dipahami adalah bahwa sebuah rasa bersyukur yang muncul pada seseorang akan berefek secara psikologis, yang di kemudiannya lagi akan berefek pula pada bagaimana seseorang tersebut memperoleh manfaat-manfaat lain sebagai akibat dari munculnya efek psikologis tersebut. Dan begitu pula munculnya sikap kufur pada seseorang terhadap nikmat yang diterimanya hanya akan membuat seseorang semakin terpuruk karena adanya efek psikologis yang muncul dari sikap tersebut. Bukan hanya di dunia, bahkan efek inipun akan membawa akibat pada kehidupannya di akherat kelak, dimana hal ini sebagai konsekuensi logis pada kehidupan dunianya yang semakin jauh dari penyempurnaan diri.

Penyadaran sepenuhnya pada umat akan hal ini sesungguhnya akan menjadi modal utama dalam membangun peradaban masa depan yang manusiawi. Dengan kata lain, penyadaran ini sepenuhnya sebagai modal pembangunan sumber daya manusia yang penuh vitalitas dan bersemangat dalam menjalani kehidupan. Apa yang muncul dari pikiran-pikirannya adalah sesuatu yang positif yang akan mendatangkan manfaat bagi kehidupan umat manusia. Bukankah ini peradaban manusiawi yang kita impikan?

Sebelum kita masuk lebih dalam ke pembahasan, satu hal yang harus digarisbawahi adalah bahwa kemutlakan kebenaran Al Qur’an adalah satu hal yang tak tertolak. Tentu saja sekaitannya dengan masalah ini sudah tidak perlu lagi kita perdebatkan Kita asumsikan saja pada titik ini sudah ada kesepakatan, dan saya yakin kita sudah ada kesepakatan.

Maka berangkat dari sini kita pahami bahwa segala penjelasan sekaligus pemaparan singkat efek tiap sesuatu dalam Al Qur’an hanyalah kebenaran saja. Artinya jika dalam Al Qur’an dikatakan adanya efek tertentu atas sebuah perbuatan tertentu, maka akan begitulah yang terjadi di ranah realitasnya. Dan tatkala pada realitasnya ternyata menunjukkan hal sebaliknya, maka bukanlah kemudian kitab Al Qur’annya yang perlu dikaji ulang dalam hal “mempertanyakan kembali kebenaran atau keasliannya”, karena ini adalah persoalan yang sudah final. Kita telah bersepakat tentang hal ini.

Jadi hal yang kemudian perlu dipertanyakan adalah pada subyek atau umat Islam sendiri sebagai umat yang menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidupnya. Pemahamannyalah yang perlu dipertanyakan, hingga sangat mungkin diperlukan pembenahan pada pemahamannya. Karena bisa saja realitas tadi terjadi disebabkan ada kekeliruan dalam pemahaman atau mungkin disebabkan kurang mendalamnya pemahaman terhadap ayat-ayat suci Al Qur’an.

Memang kita sadari bahwa segala upaya untuk melakukan pembahasan secara mendalam akan firman Allah, belum tentu pembahasannya itu akan menyentuh titik akhir dari maksud kandungannya sebagaimana yang dikehendaki Sang Pencipta itu sendiri. Namun apa yang kita lakukan semata-mata adalah sebuah usaha untuk lebih mendekatkan pemahaman kita tentang Kitabullah ini dengan pemahaman yang sedekat mungkin dengan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Dan dalam tulisan ini kita akan mencoba mengurai pemahaman kita berkaitan dengan salah satu surat di dalam Al Qur’an dengan melihatnya dari kacamata psikologis kognitif, yaitu surat Ibrahim ayat 7.

Sebagaimana diketahui alam surat tersebut Allah SWT berfirman tentang hal yang berkaitan dengan syukur nikmat dan kufur nikmat. Dan sebagaimana kedua hal tersebut adalah sesuatu yang saling bertentangan secara semantik, maka bertentangan pula pada efek dan makna yang muncul dari keduanya. Dimana kemunculan efek tersebut sesungguhnya adalah wujud dari ganjaran yang diberikan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut.

Tentu saja sudah cukup banyak para ahli dan ulama besar yang sudah masuk dalam pembahasan ayat tersebut. Maka jika pembahasan ini dianggap bukanlah sesuatu yang baru, setidaknya ini adalah sebuah upaya untuk lebih mendetailkannya melalui frame psikologis kognitif sehingga akan lebih memudahkan masyarakat kebanyakan dalam memahaminya. (bersambung…)

Penulis adalah mahasiswa S2 jurusan Ilmu Tafsir Universitas Sains Al Quran Jawa Tengah di Wonosobo.

Komentar