Rujak Cingur Dan Sejarahnya

0

5NEWS.CO.ID, -Panas-panas begini paling segar kalau kita makan rujak. Apalagi kalau rujak cingur. Apa yang ada dalam bayangan kita? Sensasi rasa pedas, manis ditambah segarnya buah dan sayuran juga bahan lainnya, bikin perut kita semakin lapar.

Rujak cingur yang ada dalam benak kita adalah kuliner dari daerah Jawa Timur. Tepatnya berasal dari Surabaya. Dalam artian bahasa Jawa cingur berarti mulut.

Dimana dalam penyajian rujak cingur ini ada bahan irisan mulut atau moncong sapi yang telah direbus dan dicampurkan dalam hidangan. Bahan utama rujak cingur ini terdiri dari berbagai macam buah dan sayuran, ditambah tempe goreng, tahu goreng, lontong dan juga cingur.

Sebagai saus atau bumbunya terdiri dari sambal rujak yang dicampur dengan petis. Baik bahan maupun bumbunya dijadikan satu dengan cara diulek.

Bagaimanakah asal mula rujak cingur ini?

Kuliner ini sudah ada sejak zaman Raja Hanyokrowati. Beliau adalah Raja di Masiran.  Suatu hari Raja Hanyokrowati ingin merayakan hari ulang tahunnya. Untuk menyediakan hidangan di hari ulang tahunnya, Raja memanggil seluruh juru masak istana.

Selang beberapa jam para juru masak sudah mempersiapkan hidangan utama mereka. Kemudian Raja mencicipinya, alhasil ternyata tidak ada yang cocok di lidahnya. Raja pun marah.

Tiba-tiba muncullah seorang punggawa istana yang menghadap Raja. Punggawa mengatakan ada seseorang yang ingin menyajikan masakan special untuk sang Raja. Abdul Rozak namanya. Dia adalah seorang pengembara lautan yang terdampar dikota tersebut.

Abdul Rozak menyajikan masakannya dibungkus dengan daun pisang. Lewat ahli kesehatan kerajaan makanan itu sudah dicek isinya dan di pastikan aman.

Kini giliran Raja mencicipi masakan itu. Ternyata masakan Abdul sangat cocok di lidah Raja. Raja menyantapnya sampai habis. Hingga keringatnya bercucuran karena saking pedasnya.  

Sebagai imbalannya Abdul Rozaq diberi Raja sebuah kapal laut yang mewah dan diangkat menjadi kepala juru masak istana serta diberi sebidang tanah.

Tetapi Abdul hanya mengambil kapalnya saja. Kemudian mengembaralah ia dengan kapalnya dan sampailah ia ke Tanjung Perak Surabaya

Selama di Surabaya Abdul Rozaq menyebarkan resep tersebut. Tapi ia kesulitan mencari cingur unta. Kemudian ia menggantikan cingur sapi yang ternyata jauh lebih nikmat.

Masyarakat Surabaya sangat menyukainya. Karena masyarakat sulit mengucapkan kata Rozaq maka mereka menamakan masakan itu dengan nama ‘Rujak Cingur’. (end).

Komentar