Amankah Jika Ampo Dikonsumsi?

0

 Penulis : Endah Sari

Pernahkah kita mendengar kata ampo? Tentu saja pernah. Orang mendiskripsikan ampo berkaitan dengan tanah kering yang disiram dengan air, keluarlah bau khas dari tanah tersebut yang disebut dengan Ampo. Baunya segar dan nyaman.

Tahukah kita, bahwa ampo sendiri merupakan makanan ringan yang terbuat dari tanah liat. Makanan ampo berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak ada bahan campuran lain dalam ampo ini.  Jadi murni dari tanah liat asli. Penyuka makanan ini biasanya wanita hamil.

Bagi masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur menyakini ampo memperkuat pencernaan.  Menurut mitos, ampo dipercaya sebagai obat yang bisa mengobati  beberapa jenis penyakit.

Sebuah studi membuktikan ternyata bahan dasar ampo, tanah liat atau lempung itu sendiri sudah steril.  Kandungan yang ada alam tanah liat memiliki manfaat yang bisa menyamankan perut dan membantu melindungi dari serangan virus dan bakteri.

Dilihat dari sisi kerugian mengkonsumsi ampo, jelas dalam mengkonsumsi tanah liat yang terkontaminasi oleh kotoran hewan dan manusia. Khususnya dari telur parasit. Misal cacing gelang yang dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah yang dapat menimbulkan masalah.

Selain itu ampo juga meningkatkan risiko terjangkit penyakit tetanus. Namun sebagian besar masyarakat atau suku sudah memahami bahaya yang terkandung bila mengkonsumsi ampo.

Untuk anak-anak mengkonsumsi ampo membuat mereka rentan terhadap infeksi cacing.  

Selain itu ada bahaya lain yaitu merusak enamil gigi, menelan berbagai bakteri, berbagai bentuk pencemaran tanah dan obstruksi usus.

Pembuatan ampo dilakukan dengan cara yang cukup sederhana dan mudah. Tanah sebagai bahan baku ampo tidak sembarangan. Melainkan berjenis tanah liat yang bertekstur lembut dan bebas dari pasir, kerikil maupun batu.

Tanah yang sudah dikumpulkan dibuat adonan kemudian dibentuk kotak atau bentuk lain dengan menambahkan air secukupnya,agar adonan tanah menjadi kalis dengan ciri tidak lengket ditangan. Adonan tanah ditambah air sedikit demi sedikit sambil sesekali ditumbuk dengan alat semacam palu dari kayu.

Setelah adonan siap, selanjutnya tanah dikikis atau diserut sedikit demi sedikit dengan menggunakan bilah pisau bambu. Hasil serutan seperti stik wafer. Setelah proses penyerutan selesai selanjutnya  serutan tadi  ditaruh diatas periuk gerabah yang diasapi diatas tungku pembakaran. Dengan cara memanggang dapat mengurangi risiko.

Tinggalkan Balasan