Menyoal UAS Mengendarai Moge, Menyerupai Orang Kafir?

0
116


Penceramah Ustad Abdul Somad pada Sabtu 21 September 2019 di akun Instagram mengunggah foto mengendarai motor gede (moge) usai salat Subuh bersama jamaahnnya di kota Batam.

“Assallamuallaikum Sahabat UAS, bersama beberapa komunitas: Bikers Shubuhan, KNPI Kota Batam, Pemuda Pancasila Batam dan Komunitas-komunitas pemuda. Pulang shalat Shubuh dari Masjid Agung Batam,” dalam unggahan di Instagram @ustadzabdulsomad_official, pada Jumat, 20 September 2019.

Dalam keterangan video tersebut juga dituliskan, “Hidup ini seperti naik motor, mesti ada gas agar tetap jalan, tapi rem juga penting, supaya tidak kebablasan,”

Penceramah yang beberapa kali mengundang kontroversi itu mengendarai Harley-Davidson Street 500 dengan jaket hitam, bergambar bendera merah putih di sisi kanan dengan helm half face warna putih.

Diperkirakan harga Harley-Davidson Street 500 itu seharga Rp 324 juta on the road sebagai varian standar. Namun di pasar motor bekasnya, Street 500 bisa didapatkan dengan harga kisaran mulai dari Rp 195 juta hingga Rp 285 juta tergantung kondisi dengan catatan motor ini dijual dengan surat-surat lengkap bukan bodong, tulis Tempo.

Namun sayangnya, tampilan gagah dengan Moge penceramah asal Asahan Sumatra Utara itu, justru menampakan keteledoran dalam berkendara dan bukan contoh yang baik bagi pengendara yang lain.

Apa pasalnya? sang ustad dengan sebutan akrab UAS itu justru motornya tanpa nomor polisi baik tampak depan maupun belakang. Belum lagi pengendara lain yang turut menemani jala-jalan pagi sang ustad di jalanan umum itu banyak yang tidak berhelm sebagai pengaman berkendara. Banyak dari jamaah yang menyertai hanya berkopiah.

Jika merujuk Undang-undang tentang lalu lintas, jelas sebuah pelanggaran. Selaku maskrakat yang taat aturan di jalan raya apalagi tokoh bagi sebagain kalangan, harusnya memberi contoh dan teladan. Teruatama bagi generasi bangsa masa depan.

Bukan netizen namanya jika tidak nyinyir dan mengingatkan siapa saja meski kadang dengan cara sadis. Unggahan UAS tak pelak mendapat sejumlah kritikan disamping pujian.

Akun @duniadian nulis, “Eh gak ada plat nomor.. gak keren,” katanya. “Yang gak pake helm gak keren.. tolong dinasehati pak ustaz..,” @duniadian

Sementara itu akun @ariefsasono turut menasihati sang ustad dengan kalimat “Tolong yang gak pakai helm dinasehatin Pak Ustadz. Islam harus mencerminkan yang baik dalam hal apapun,”

Dalam Pasal 280 Undang Undang  No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyebutkan, “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Dalam beberpa postingan di media sosial malah banyak warganet mengkritik tampilan UAS naik Moge ini. Netizen yang maha benar menyebutkan kalau Moge itu buatan kafir, gaya bermoge UAS meniru kafir, bahkan berkonvoi dengan Moge adalah kebiasaan orang-orang kafir.

Netizen membandingkan gaya UAS itu degan gambar konvoi Moge yang dilakukan orang-orang Bule. Dengan menyitir hadis yang sering diucapkan UAS sendiri, ketika meniru orang kafir maka termasuk golongan mereka.

`Man tasyabbaha bi qowmin, fahuwa minhum` kata UAS ketika mengingatkan umat Islam agar tak meniru orang kafir.

‘Orang yang menyukai orang kafir akan condong hatinya kepada orang kafir itu,” kata UAS saat melarang nonton Drakor sebagaimana pernah dibahas di 5news.co.id, beberapa hari yang lalu.

Namun sayang, hadis dari Rasulullah SAW itu dipahami secara general tanpa melihat konteks jaman dan maksud dari hadis mulia ini. Menilai UAS dengan hadis yang sama digunakan UAS namun tujuannya sama-sama menjatuhkan, artinya sama buruknya. Islam tidak mengajarkan demikian, kita harus menempatkan segala sesuatu dengan proforsional.

Bagaimanakah hadis lengkap dan maksud kandunga hadis yang dinukil sepotong oleh UAS kemudian digunakan juga untuk menjatuhkan UAS?

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيَّ السَّاعَةُ بِالسَّيْفِ حَتَّى يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَجَعَلَ رِزْقُى تَحْتَ ظِلُّ رَمْحَيَ وَجَعَلَ الذِّلَةُ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خِالِفُ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Rasulullah SAW bersabda: “Aku diutus di zaman sebelum kiamat dengan pedang hingga hanya Allah sajalah yang disembah, tiada sekutu bagi-Nya, dijadikan rezekiku di bawah bayangan tombakku, dan dijadikan kehinaan dan kenistaan atas siapa saja yang menentang perintahku. Dan barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.”

(Teks Hadis yang utuh ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Abdu bin Humaid dari Ibnu Umar).

Menurut keterangan Prof. Nadirsyah Hosen bahwa hadis lengkap ini mengandung makna politik identitas karena pada masa Nabi Muhammad Saw identitas keislaman merupakan sesuatu yang sangat penting, untuk membedakan Muslim dan kafir, dan agar mudah dikenali.

Maka konteks hadis ini berkaitan dengan politik pada masa Nabi dan tidak bisa gebyah uyah untuk semua hal. Apalagi ketika menyangkut budaya di tengah-tengah kaum Muslimin yang tentunya berbeda dengan budaya di jaman Nabi. Wallahualam. (mas)

Tinggalkan Balasan