Tonton Film The Santri Sambil Nikmati Serapah Pencaci

1
122

Penulis: Umar Husain

Belum lagi ditayangkan secara resmi, Film The Santri sudah mengundang sumpah serapah gerombolan pencaci. Film karya sineas muda Livi Zheng harus dinilai sukses besar meskipun belum tayang. Pasalnya, sejak trailer film ini dirilis di NU Channel, saluran resmi youtube milik NU, koor ‘nyanyian’ pencaci bersuara ‘sember’ berkumandang.

Selain seleb medsos Felix Siauw dan Ustad Abdul Somad (UAS), pencaci nomor wahid bernama Soni ‘Maheer Atthuwailibi’ Ernata malah pertama kali angkat suara. Dalam sejumlah postingan konyol di akun Instagram Soni Ernata alias Maheer Atthuwailibi sumpah serapah pun menyembur deras. Dia menilai, Film the Santri bukan film yang mendidik generasi muslim dan muslimat muda.

“Film itu justru mengandung unsur maling. Maling akidah,” kata Soni Ernata, saat menjawab pertanyaan seorang pemuda yang berada disampingnya dalam sebuah video pendek yang diunggah di Instagram.

Lain halnya dengan UAS, seperti biasa, dia menjawab pertanyaan sekaitan dengan film The Santri dari jemaah yang hadir dalam sebuah pengajian. Senada dengan sumpah serapah Soni ‘Maheer Atthuwailibi’ Ernata, UAS juga berkomentar miring terhadap film itu.

Mengaku sudah menonton Film The Santri, meski tidak sampai habis (mungkin maksudnya trailer, wong memang belum tayang resmi), UAS menilai beberapa adegan dalam film besutan Livi Zheng itu bertentangan dengan ajaran Islam, terutama adegan masuk ke tempat ibadah agama lain.

“Dalam Islam, mazhab Syafii mengharamkan masuk ke dalam rumah ibadah yang ada berhala,” kata dia.

Beda halnya dengan pegiat khilafah Felix Siauw. Kali ini dia tidak secara langsung menyebut film The Santri, meskipun tulisannya ‘mengarah’ ke sana. Jika benar postingan Felix ditujukan kepada film itu, ia menilai film itu tidak mendidik secara islam. Lebih jauh, mantan aktivis HTI itu bahkan menilai film itu bermuatan ajaran liberal.

“Muslim diajari Islam oleh mereka yang justru nggak paham dengan Islam, bahkan bukan Muslim,” kata Felix Siauw di akun Instagramnya @ @felix.siauw, Jumat (20/9/2019).

“Saat bersyariat dianggap buruk, dan liberal dianggap mulia,” ujarnya.

“Orangtua harusnya paham, kalau mereka nggak boleh anak mereka narkobaan sebab merusak, mereka harusnya juga hati-hati pada referensi yang merusak, film yang menyesatkan,” tulis Felix.

Lihat postingan ini di Instagram

Boleh nggak sih berbagi kesedihan dengan semua kawan-kawan saya di akun ini? Sedih banget, ketika saya menyaksikan tayangan-tayangan hari-hari ini, yang ditujukan buat remaja, pelajar dan santri. Yang justru nggak mencerminkan mereka sama sekali Di waktu yang sama, saya baca bahwa yang berwenang justru akan menghapuskan kisah-kisah peperangan dalam Islam, karena dianggap radikal dan tak pantas Dari sini saya kebayang banget masa depan. Anak-anak kita jadi lemah, penakut, nggak punya loyalitas, nggak mau berkorban, dan nggak ngerti kekesatriaan Disaat yang sama, mereka jadi lebay, baper negatif, jadikan cinta dan pacaran sebagai dewa, cowok-cewek nggak ada batesan lagi, generasi rapuh Orangtua harusnya paham, kalau mereka nggak boleh anak mereka narkobaan sebab merusak, mereka harusnya juga hati-hati pada referensi yang merusak, film yang menyesatkan Muslim diajari Islam oleh mereka yang justru nggak paham dengan Islam, bahkan bukan Muslim. Saat bersyariat dianggap buruk, dan liberal dianggap mulia Sekedar berbagi kekhawatiran sebagai orangtua. Tayangan hari-hari ini, merusak generasi muda, justru atas nama pelajar, atas nama remaja, atas nama santri Curhat saya lebih lanjut, silakan di YouTube saya. Yang punya pikiran buruk, mending nggak usah nonton, malah nanti tambah pusing, video ini buat yang sama-sama khawatir Video lengkap di YouTube ya..

Sebuah kiriman dibagikan oleh Felix Siauw (@felixsiauw) pada

Beberapa hari lalu, , Wakil Sekjen Pengurus Besar NU (PBNU) selaku eksekutif produser film ‘The Santri’, Imam Pituduh mengingatkan agar mereka yang kontra dengan film ini tak buru-buru menilai hanya dengan melihat trailernya. Dia juga mengajak agar semua pihak menunggu hingga film itu ditayangkan dan menontonnya.

“Tunggu dan tonton ‘The Santri’. Baru kita lihat, ada yang bertentangan atau tidak,” kata Imam.

Bagi saya, serapah tukang maido (pencaci) itu justru menandakan The Santri sukses bahkan sebelum tayang resmi. Reaksi negatif itu menandakan ketakutan mereka akan meluasnya pengaruh budaya NU di generasi milenial melalui dlayar lebar. Mereka takut propaganda dan doktrin-doktrin konyol mereka luntur bagai bedak kena air.

Saran saya bagi umat Islam di manapun anda berada, tua muda, laki-laki dan wanita, tonton The Santri. Selain hiburan, film itu juga mengandung pelajaran. Anggap saja sumpah serapah mereka sebagai bonus hiburan sekaligus pelajaran agar kita tidak ikut-ikutan menilai sesuatu hanya dari bungkusnya.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan