Film The Santri Menuai Kontroversi

0
23

Jakarta, 5NEWS.CO.ID, -Film  The Santri yang  baru saja merilis trailer resminya, langsung menuai banyak kontoversi dari berbagai pihak. Terutama dari para ulama. Film yang disutradarai  Livi Zheng ini menceritakan tentang kehidupan para santri.

Para pemeran film The Santri ini antara lain Guz Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansyur dan Emil Dardak. Film yang diproduksi oleh  PBNU ini, dipubliskan pada tanggal 9 September 2019 di kanal Youtube NU Channel. Rencananya film ini akan diluncurkan bulan Oktober bertepatan dengan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

Film ini mengisahkan kehidupan di sebuah pondok pesantren yang sedang mempersiapkan perayaan Hari Santri. Dimana seorang guru menjanjikan pada para santri disana bahwa 6 santri yang terbaik akan diberangkatkan dan bekerja di Amerika Serikat.  Livi Zheng  mengatakan ada 2 penggambaran  permasalahan yang  menuai kontroversi.

Pertama penggambaran pergaulan para santri di pondok pesantren. Dalam cuplikan adegan, santri perempuan dan santri laki-laki berjalan bersama tanpa ada pemisahan. Terlihat pula Azmi Askandar dan Wirda Mansyur saling mencuri pandang dan tersenyum penuh arti. Apa yang digambarkan dalam film The Santri tidak sesuai dengan kehidupan di pondok sebenarnya. Baik santri putri maupun  santri putra dipisah dan tidak ada ceritanya berjalan beriring bersama.  Karena bukan mahramnya. Begitu pula untuk pembelajarannya, terpisah. Untuk santri putri dididik oleh Ustadzah sedangkan santri putra dididik oleh Ustad.

Sedangkan untuk kontroversi yang kedua terlihat adegan pemberian tumpeng oleh dua orang santri putri kapada para pastur di sebuah gereja. Dalam adegan tersebut Wirda Mansyur menyerahkan tumpeng sembrani mengatakan ini adalah tanda cinta. Padahal pastur dan para jamaah gereja pada waktu itu sedang beribadah. Hal ini bisa merusak akidah. Dalam cupikan adegan, yang terlihat dua santri putri tidak ikut ibadah bersama. Mereka hanya menyerahkan tumpeng sebagai tanda cinta atau tanda toleransi dan menghargai keragaman agama dan kepercayaan.

Kita seharusnya bisa mengkritik film ini dengan baik.  Dan menjelaskan bagaimana kehidupan santri  yang sebenarnya. Tanpa harus menfitnah.  Bagaimanapun juga film ini adalah karya seniman. Sah-sah saja sih jika Livi Zheng mengekspresikan jiwa seninya. (DBS/end)      

Tinggalkan Balasan